Kamis, 05 November 2015

BERJUANG TANPA SUAMI



Suasana minggu pagi di area pelabuhan feri lintas Waipirit - liang, tepatnya pukul 10.30 wit, tanggal 19 Septamber 2015, Terasa begitu pengap oleh asap-asap kendaraan yang berlalu-lalang, keluar-masuk area pelabuhan. Ditambah lagi panas matahari yang seakan membakar kulit.

Peluh tanpa keluh, sangat jelas terlihat dari raut wajah seorang wanita parubaya belusia 40 tahun yang sedang duduk di salah satu trotoar area pelabuhan. Sesekali Aci ibu tiga anak ini, melirik di sekitarnya, entah hanya melihat aktifitas para supir angkot atau hanya membuang kejenuhan sambil menunggu kapal feri.

Ibu Aci seorang pedagang sayur dan buah ini hendak membeli barang dagangan di Piru untuk dijualnya lagi di pasar Tulehu. Perjalanan ke Piru menggunakan kapal feri lintas Waipirit-Liang, dilanjutkan lagi dengan angkot ke tempat tujuan.

“Barang masuk 2 atau 3 hari sekali” kata ibu Aci, saat ditanya seorang peserta training Jurnalistik, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas IAIN AMBON. Penghasilan ibu Aci, berkisar Rp 1 juta sekali barang masuk. Penghasilannya tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya.

Dari ketiga anak ibu Aci, 2 diantaranya sudah menikah, sedangkan yang bungsu masih menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 1. Walaupun sudah menikah tetapi, salah satu diantara keduanya masih di menjajaki bangku perkuliahan dan masih dalam tanggungan biaya sang ibu.

Susah senang, ibu Aci telah rasakan dalam pengalaman hidupnya. Semangat ibu Aci tak pernah putus walaupun setiap harinya harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sekaligus menggantikan peran sang suami yang telah meninggal beberapa tahun silam.

Banyak kendala saat perljalanan ibu Aci ke Piru, diantaranya, jalan yang rusak dan jembatan darurat yang cukup berbahaya karena hanya terbuat dari pohon kelapa sebagai penyangga. Meski begitu, Ibu Aci tidak pernah menyerah, baginya ini adalah perjuangan mencari kehidupan.


PENULIS: Febrian-LINTAS-PERS

Minggu, 04 Oktober 2015

YANG MEMBEDAKAN DIRI SESEORANG

Ada banyak sifat, karakter, dan pola fikir pada setiap manusia. ada yang kalem, keras, periang, pemalu, cuek dan masih banyak lagi. Setiap orang berbeda cara hidupnya, tetapi dari perbedaan itu semua mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin mendapatkan keuntungan. Seorang ustad, kyai, pemabuk, dan pezina semua ingin mendapatkan keuntungan. Seorang ustad dan kiyai misalnya, mereka ingin mendapatkan keuntungan bukan hanya didunia tetapi juga ingin mendapatkan keuntungan berupa surga di akhirat. Sedangkan seorang pemabuk, penjudi,dan pezina, mereka ingin mendapatkan keuntungan berupa kenikmatan dan kebebasan didunia, tetapi lupa akan hari akhirat.
       
Tuhan menciptakan manusia dengan sangat adil, kenapa saya bilang adil? karena tuhan tidak mungkin berbuat tidak adil. Bayak orang yang bertanya dengan diri meraka sendiri tentang perbandingan diri mereka dan orang lain dengan kata-kata "mengapa dia punya tubuh lengkap,sedangkan diriku sendiri cacat.?" jawabannya adalah, "apakah mereka yang mempinyai tubuh yang lengkap itu bersyukur..? belum tentu kan!" bahkan kebanyakan dari orang yang cacat mereka berhasil karna mereka bersyukur.
  
 Kesimpulannya adalah, yang membedakan sifat individu manusia bukanlah dari fisiknya yang sempurna atau fisik yang cacat, tetapi kebersihan hati kita, dan yang perlu kita perhatikan ialah bagaimana kita mengolah hati kita agar tetap bersih (berfikir positif).

penulis : MUH FEBRIAN

Kamis, 01 Oktober 2015

-Kebahagiaan....
-Kesedihan....
      2 hal itu tidak pernah lepas dari diri manusia,

Semuanya datang secara tiba-tiba.

Tidak ada yang di rencanakan

Jadi makanya setiap orang, butuh pengetahuan dan pengalaman untuk dapat mengetahui cara

melewati setiap masalahnya....

      Hadapilah masalah dengan mengambil pelajaran di dalamnya..

Dengan begitu, kau akan melewati    ''Masalah Tanpa Masalah''
MY PICTURE