BERJUANG TANPA SUAMI
Suasana
minggu pagi di area pelabuhan feri lintas Waipirit - liang, tepatnya pukul
10.30 wit, tanggal 19 Septamber 2015, Terasa begitu pengap oleh asap-asap
kendaraan yang berlalu-lalang, keluar-masuk area pelabuhan. Ditambah lagi panas
matahari yang seakan membakar kulit.
Peluh
tanpa keluh, sangat jelas terlihat dari raut wajah seorang wanita parubaya
belusia 40 tahun yang sedang duduk di salah satu trotoar area pelabuhan.
Sesekali Aci ibu tiga anak ini, melirik di sekitarnya, entah hanya melihat
aktifitas para supir angkot atau hanya membuang kejenuhan sambil menunggu kapal
feri.
Ibu
Aci seorang pedagang sayur dan buah ini hendak membeli barang dagangan di Piru
untuk dijualnya lagi di pasar Tulehu. Perjalanan ke Piru menggunakan kapal feri
lintas Waipirit-Liang, dilanjutkan lagi dengan angkot ke tempat tujuan.
“Barang
masuk 2 atau 3 hari sekali” kata ibu Aci, saat ditanya seorang peserta training
Jurnalistik, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas IAIN AMBON. Penghasilan ibu
Aci, berkisar Rp 1 juta sekali barang masuk. Penghasilannya tersebut untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya.
Dari
ketiga anak ibu Aci, 2 diantaranya sudah menikah, sedangkan yang bungsu masih
menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 1. Walaupun sudah menikah
tetapi, salah satu diantara keduanya masih di menjajaki bangku perkuliahan dan
masih dalam tanggungan biaya sang ibu.
Susah
senang, ibu Aci telah rasakan dalam pengalaman hidupnya. Semangat ibu Aci tak pernah
putus walaupun setiap harinya harus bekerja banting tulang untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya, sekaligus menggantikan peran sang suami yang telah
meninggal beberapa tahun silam.
Banyak
kendala saat perljalanan ibu Aci ke Piru, diantaranya, jalan yang rusak dan
jembatan darurat yang cukup berbahaya karena hanya terbuat dari pohon kelapa
sebagai penyangga. Meski begitu, Ibu Aci tidak pernah menyerah, baginya ini
adalah perjuangan mencari kehidupan.
PENULIS:
Febrian-LINTAS-PERS
Suasana
minggu pagi di area pelabuhan feri lintas Waipirit - liang, tepatnya pukul
10.30 wit, tanggal 19 Septamber 2015, Terasa begitu pengap oleh asap-asap
kendaraan yang berlalu-lalang, keluar-masuk area pelabuhan. Ditambah lagi panas
matahari yang seakan membakar kulit.
Peluh
tanpa keluh, sangat jelas terlihat dari raut wajah seorang wanita parubaya
belusia 40 tahun yang sedang duduk di salah satu trotoar area pelabuhan.
Sesekali Aci ibu tiga anak ini, melirik di sekitarnya, entah hanya melihat
aktifitas para supir angkot atau hanya membuang kejenuhan sambil menunggu kapal
feri.
Ibu
Aci seorang pedagang sayur dan buah ini hendak membeli barang dagangan di Piru
untuk dijualnya lagi di pasar Tulehu. Perjalanan ke Piru menggunakan kapal feri
lintas Waipirit-Liang, dilanjutkan lagi dengan angkot ke tempat tujuan.
“Barang
masuk 2 atau 3 hari sekali” kata ibu Aci, saat ditanya seorang peserta training
Jurnalistik, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas IAIN AMBON. Penghasilan ibu
Aci, berkisar Rp 1 juta sekali barang masuk. Penghasilannya tersebut untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya.
Dari
ketiga anak ibu Aci, 2 diantaranya sudah menikah, sedangkan yang bungsu masih
menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 1. Walaupun sudah menikah
tetapi, salah satu diantara keduanya masih di menjajaki bangku perkuliahan dan
masih dalam tanggungan biaya sang ibu.
Susah
senang, ibu Aci telah rasakan dalam pengalaman hidupnya. Semangat ibu Aci tak pernah
putus walaupun setiap harinya harus bekerja banting tulang untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya, sekaligus menggantikan peran sang suami yang telah
meninggal beberapa tahun silam.
Banyak
kendala saat perljalanan ibu Aci ke Piru, diantaranya, jalan yang rusak dan
jembatan darurat yang cukup berbahaya karena hanya terbuat dari pohon kelapa
sebagai penyangga. Meski begitu, Ibu Aci tidak pernah menyerah, baginya ini
adalah perjuangan mencari kehidupan.
PENULIS:
Febrian-LINTAS-PERS
